Seputar Sejarah Puasa ‘Asyura

Puasa ‘Asyura adalah puasa yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram. Puasa ini sangat dianjurkan dan memiliki beberapa keutamaan, diantaranya penebusan dosa satu tahun yang telah lalu, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَصِيَامُ يَوْمِ ‌عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Sedangkan puasa ‘Asyura, aku harapkan kepada Allah agar menebus dosa-dosa satu tahun sebelumnya.” (HR. Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah, Tirmidzi & Baihaqi)

Dahulu, sebelum datang perintah berpuasa Asyura’, puasa ini dilakukan oleh kaum Quraisy Jahiliyah & Yahudi. Puasa ‘Asyura-lah yang diwajibkan atas kaum muslimin sebelum datang perintah wajib berpuasa Ramadhan, lalu berubah menjadi sunnah. Sebagaimana pada riwayat hadits,

عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ صَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

“Dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya, bahwasanya Aisyah telah berkata: “Pada masa jahiliyah orang-orang Quraisy berpuasa pada hari ‘Asyura dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (juga) melaksanakannya. Ketika sampai di Madinah beliau (tetap) melaksanakannya dan menyuruh (para sahabat) melaksanakannya. Maka ketika diwajibkan puasa Ramadhan, beliau meninggalkan (puasa) di hari ‘Asyura, siapa mau puasa (‘Asyura maka boleh) dan barangsiapa mau (maka boleh ia) tinggalkannya.”” (HR. Bukhari, Muslim, Malik, Abu Daud, Tirmidzi & Ahmad)

Seiring berjalanya waktu, puasa Tasu’ah disyariatkan sebagai tambahan puasa ‘Asyura, tujuannya ialah untuk menyelisihi kebiasaan kaum Yahudi dan Nasrani,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِينَةَ فَرَأَى اليَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: «مَا هَذَا؟»، قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى، قَالَ: «فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ»، فَصَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam tiba di kota Madinah dan melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, iapun berkata: “Apa ini?”, Mereka menjawab: “Ini adalah hari ketika Allah menyelamatkan Bani Israel dari musuh mereka, maka Nabi Musa-pun berpuasa (karenanya).” Rasul bersabda: “Maka aku lebih berhak dengan Nabi Musa daripada kalian”. Maka ia berpuasa pada hari itu dan memerintahkan (kaum muslimin untuk berpuasa). (HR. Bukhari)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: حِينَ صَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى ،فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ، قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ، حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dari Ibnu Abbas ia berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa hari ‘Asyura dan memerintah (para sahabat) untuk berpuasa, para sahabat berkata: “Hai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang sangat diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tahun depan insyaAllah kita akan berpuasa pada hari yang ke sembilan (Muharram)””. Ia (Ibnu Abbas) berkata: “Belum sampai tahun depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat”. (HR. Muslim, Abu Daud & Baihaqi)

Terdapat hadits yang juga diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu,

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya aku hidup sampai tahun depan niscaya aku puasa pada hari ke sembilan (bulan Muharram, atau Tasu’ah).”” (HR.Muslim, Ibnu Majah, Baihaqi, & Ahmad)

Dua riwayat hadits di atas secara garis besar menerangkan bahwa sejak para sahabat menyatakan pada beliau tentang pengagungan hari Asyura oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam langsung memutuskan tahun setelahnya akan berpuasa pada hari ke sembilan bulan Muharram atau Tasu’ah. Hal ini tentu dengan niatan agar tidak menyamai kebiasaan orang Yahudi dan Nasrani. Hanya saja niat itu tidak sempat terlaksana karena beliau meninggal sebelum umurnya dipanjangkan hingga tahun berikutnya. Meski puasa Tasu’ah belum dilaksanakan oleh Nabi, keinginan kuat (hammiyah) Nabi shallallahu a’laihi wasaalam tersebut sudah memiliki status hukum menurut syariat, atau diistilahkan dengan sunnah hammiyah.

Pertanyaan

Dari sini kemudian muncul pertanyaan, “Apakah kita umat Islam berpuasa tanggal 9 Muharram (Tasu’ah) untuk menyelisihi kebiasaan Yahudi? Atau tetap berpuasa tanggal 10 Muharram saja (‘Asyura)? Mengingat bahwa Nabi menyetujui penyelisihan terhadap kebiasaan Yahudi & Nasrani saat Asyura’ (10 Muharram), namun belum melaksanakan puasa Tasu’ah (9 Muharram). Atau sebaiknya berpuasa pada kedua tanggal 9 dan 10 Muharam (Tasu’ah & ‘Asyura)?

Jawaban

Kalau kita simak baik-baik sabda Nabi Muhammad shalllahu ‘alaihi wasallam: “Seandainya aku hidup sampai tahun depan niscaya aku puasa pada hari ke sembilan”. Keterangan ini tidak berarti menafikan/meniadakan dianjurkannya puasa tanggal sepuluh Muharram (‘Asyura), melainkan hal ini justru menjadi tambahan atasnya, supaya berbeda dengan kebiasaan kaum Yahudi dan Nasrani yang hanya mengagungkan tanggal 10 Muharram/’Asyura saja.

Pemahaman ini dikuatkan dengan pernyataan sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, sang Habrul Ummah,

عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ: أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ، أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ، يَقُولُ فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ: خَالِفُوا الْيَهُودَ وَصُومُوا التَّاسِعَ وَالْعَاشِرَ

Abdurrazaq berkata: “Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij, ia berkata: “Telah mengabarkan kepadaku Atha’, bahwasanya saya mendengar Ibnu Abbas berkata tentang hari Asyura: “Selisihilah Yahudi dan berpuasalah pada hari ke sembilan (Tasu’ah) dan hari ke sepuluh (‘Asyura).””” (Mushannaf Abdurrazaq no. 8086)

Pernyataan sahabat Ibnu Abbas radiyallahua’anhu ini termasuk marfu’ hukman atau sampai kepada nabi secara hukum, karena puasa ‘Asyura termasuk perkara ibadah, yang tidak mungkin sahabat Nabi membuat-buatnya atau menyimpulkan keputusan hukum sendiri tanpa adanya landasan ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kesimpulan

Puasa ‘Asyura adalah puasa sunnah yang dikerjakan pada tanggal 10 Muharram dan selayaknya didahului dengan puasa Tasuah tanggal 9 Muharram, untuk menyelisihi kebiasaan kaum Yahudi dan Nasrani, sebagaimana keinginan kuat (azam) Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam. Wallahu a’lam bisshowab.

Diterjemahkan & disusun di:
Singosari, Malang, Jawa timur, Indonesia, Senin 1 Muharram 1443 H (9 Agustus 2021 M)

Oleh: Ust. Ery Santika Adirasa. S.ST.
Editor: Iskandar Alukal, L.c.

Artikel hukumpolitiksyariah.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *